Pemondokan Yang Tidak Memadai Haji Reguler

Jemaah paket haji reguler Indonesia keluhkan pemondokan yang tidak memadai. Sejumlah jemaah haji Indonesia yang bermukim sembilan hari di Madinah, mengeluhkan jarak pemondokan yang jauh dari Masjid Nabawi.

 

pemondokan-jemaah-haji-reguler

Hal ini cukup merepotkan jemaah yang hendak menunaikan ibadah Arbain atau salat 40 waktu di masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW.

Seperti yang diutarakan Ramdani Dimang, jemaah asal Tangerang, yang ditemui saat melepas lelah setelah berjalan satu kilometer dari Masjid Nabawi, Selasa (16/9/2014).

Walau mengaku sering berjalan kaki, namun jemaah kloter 17 embakarsi Jakarta ini mengaku kelelahan. Cuaca terik sekitar 42 derajat celcius, membuat jamaah berusia 65 tahun ini kelelahan. Kami jalan ramai-ramai, tapi enggak kuat karena panas,ujarnya.

Sutinah, calhaj dari kloter yang sama, mengatakan air bersih sempat macet selama beberapa hari. Hal ini membuat jemaah sulit mandi dan mencuci pakaian. Tidak hanya jauh, ternyata pemondokan juga tidak memadai.

Ramdani dan Sutinah tinggah di Hotel Mulhaq Al Mudiaf. Hotel ini fasilitasnya sangat minim. Setiap kamar diisi oleh 12 jamaah dan hanya disediakan satu kamar mandi. Menurut Bay Makmun, pembimbing kloter, sebenarnya hotel tersebut sudah empat hingga lima tahun tidak terpakai.

Ini sangat menyulitkan. Apa lagi di kloter kami ada 175 jemaah yang sudah berusia lanjut,” katanya.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Ahmad Jauhari menuturkan, sembilan dari 10 Majmuah (penyedia akomodasi jemaah) di Madinah tidak taat komitmen. Akibatnya, 42 kloter jemaah haji ditempatkan di luar markaziyah (wilayah terdekat Masjid Nabawi).

Dari 10 Majmuah, sembilan diantaranya tidak memenuhi komitmen yang diharapkan,” katanya dalam rapat koordinasi penyelenggaraan haji 2014.

Rapat ini dihadiri oleh Konjen RI di Jeddah Darmakirty Syailendra, Dirjen PHU Kemenag Abdul Jamil, dan jajaran PPIH Arab Saudi. Rapat digelar di Kantor TUH KJRI di Jeddah, Selasa (16/9/2014).

Para Majmuah beralasan soal adanya perluasan Masjid Nabawi sehingga sejumlah gedung tidak bisa digunakan.

Adanya proyek perluasan Masjid Nabawi yang berdampak gedungg-gedung di sekitar Masjid Nabawi sehingga sebagian besar sudah dihancurkan. Ada juga juga gedung yang secara infrastruktur tidak layak sehingga dicabut listrik dan lainnya sehingga tidak layak untuk jemaah,” katanya.

Sebelumnya, Kadaker Madinah Nasrullah Jasam menyatakan mayoritas majmuah melanggar kontrak. Akibatnya, 42 kloter jamaah haji atau lebih dari 13 ribu jamaah ditempatkan di luar markaziyah. Para majmuah yang melanggar kontrak itu bakal dikenai sanksi, dari pemotongan pembayaran sampai black list selama beberapa tahun ke depan.

sumber : Metrotvnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *