Ketika Haid Datang Saat Melaksanakan Ibadah Haji Umroh

Ketika Haid Saat Haji Umroh – Berangkat menuju ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji adalah impian setiap umat Muslim. Seseorang yang sudah mendapat panggilan untuk menunaikan rukun Islam kelima ini, tentu selalu berharap menjadi haji yang mabrur. Salah satu syarat agar ibadah hajinya diterima adalah menunaikan semua rangkaian pesryaratan ibadah haji.

 

Ketika Haid Datang Saat Melaksanakan Ibadah Haji Umroh

 

Khusus bagi Muslimah atau kaum hawa yang sedang menunaikan ibadah haji, tentu ada peluang datang haid yang setiap bulanannya hadir sehingga bisa saja datang haid saat haji umroh atau saat sedang berihram. Padahal, saat haid, seorang Muslimah tidak boleh menunaikan thawaf sebagai bagian dari rukun haji.

Saat Aisyah ra sedang haid, Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji, selain dari melakukan thawaf di Ka`bah hingga engkau suci.” (HR Muttafaq a`laih).

Lalu, bagaimana jika saat melaksanakan ibadah haji datang tamu bulanan (haidh) atau haid saat haji umroh pada Muslimah atau kaum hawa? Di antara syarat sah thawaf adalah suci dari hadas kecil ataupun hadas besar. Dengan demikian, orang yang berthawaf pada dasarnya, harus bersih dari haid dan nifas. Kesucian semacam ini merupakan syarat sah thawaf menurut sebagaian besar ulama. Orang yang berthawaf dalam kondisi tidak suci, thawafnya menjadi batal.

Berdasarkan pandangan tersebut, dalam Madzhab Syafii disebutkan, “Perempuan haid yang belum melakukan thawaf ifadhah (mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali dimulai dari memberi salam kepada Hajar Aswad dan diakhiri dengan salam pula kepadanya) harus bertahan di Mekah hingga orang tersebut suci. Kalau ada bahaya yang mengancam atau hendak pulang bersama rombongan sebelum tawaf ifadhah, ia harus tetap dalam keadaan ihram hingga kembali ke Mekah untuk melakukan thawaf walau beberapa tahun kemudian.” (Kitab Al-Majmu` juz 8, hal. 200).

Sementara menurut kalangan Hanafi, suci dalam thawaf hukumnya wajib. Karena itu, orang yang bertawaf dalam keadaan tidak suci seperti perempuan yang sedang haid dan nifas, thawafnya sah, tetapi harus membayar dam (denda). Mereka berdalil dengan firman Allah SWT, Seharusnya mereka melakukan thawaf di sekitar Ka`bah Baitullah itu. (QS Al-Hajj (22) ayat 29). Menurut mereka ayat tersebut memerintahkan thawaf secara mutlak, tanpa dikaitkan dengan syarat kesucian.

Jika darah haidnya tidak keluar dengan terus-menerus dan sempat berhenti untuk beberapa hari, pada masa itulah ia berthawaf. Ini sesuai dengan pandangan kalangan Syafiiah yang menyatakan, dalam keadaan bersih pada hari-hari terputusnya haid dianggap suci.

Terakhir, Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim berpendapat, thawaf ifadhah wanita haidh adalah sah jika memang kondisinya terpaksa, seperti ia harus pergi bersama rombongan untuk meninggalkan Mekah. Syaratnya, ia harus membalut tempat keluarnya darah.

Lalu, apakah boleh seorang Muslimah meminum pil anti haidh agar selama dalam pelaksanaan ibadah haji tidak terganggu?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam keputusan Komisi Fatwa 12 Januari 1979 membahas singkat tentang penggunaan pil haid. Komisi Fatwa MUI yang pada saat itu di ketuai oleh KH. Syukri Ghozali memutuskan tiga hal terkait mengonsumsi pil haidh.

Pertama, jika niatnya untuk menunaikan ibadah haji, hukumnya mubah atau boleh.

Kedua, jika penggunaan pil haid dengan maksud untuk menunaikan puasa Ramadhan, hukumnya makruh. Akan tetapi bagi Muslimah yang sukar mengqadha puasa pada hari lain maka hukumnya mubah.

Ketiga, jika niat penggunaan selain untuk dia seperti ibadah di atas, hukumnya bergantung pada niatnya. MUI menegaskan, jika penggunaan pil haidh untuk perbuatan yang menjurus pada pelanggaran hukum agama, maka hukumnya haram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *