Ciri atau Tanda Haji dan Umroh yang Mabrur

Haji dan Umroh yang Mabrur, Suatu hari Jabir bin Abdullah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Apakah haji mabrur itu?”. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menjawab, yaitu:

”Suka memberi makanan dan berbicara yang baik”. (H.R. Al-Baihaqi).

Ciri atau Tanda Haji dan Umroh yang Mabrur

Haji mabrur artinya itu ialah haji yang diterima oleh Allah. Sedangkan balasan yang akan diterima tidak lain adalah syurga. Sedangkan dari umrah satu ke umrah berikutnya itu, untuk menghapus dosa di antara keduanya tersebut.

Ini seperti disebutkan di dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Artinya: “Di antara umrah yang satu dan umrah lainnya akan menghapuskan dosa di antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan, tanda-tandanya haji dan umroh yang mabrur dapat juga dirasakan oleh orang lain setelah kembali ke tanah air seusai pelaksanaan manasik haji di tanah suci dilaksanakan sebagaimana yang sudah digambarkan di dalam hadits di atas.

A. Tanda pertama itu suka memberi makanan.
Artinya, sekembalinya seseorang ke rumah setelah melaksanakan ibadah haji atau umrah, orang tersebut menjadi gemar memberi, suka bershadaqah, penyantun, penyayang dan senang membantu orang lain yang membutuhkan.

Harta yang telah dikeluarkan selama dipergunakan dalam perjalanan haji, memotong hewan kurban, membayar dam (denda) dilanjutkan ketika kembali lagi ke tanah air dalam bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat yang sangat membutuhkan uluran tangan (bantuan).

Jangan sampai setelah pulang dari tanah suci, masih memilki sifat pendusta agama yang melekat di dalam dirinya itu.

Seperti peringatan Allah,
Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS Al-Ma’un [107] : 1-3).

B. Tanda kedua yaitu selalu berbicara yang baik dan sangat sejuk di hati.
Artinya, sekembali ke tanah air dan berkumpul kembali bersama keluarga,saudara, kerabat ataupun tetangga, jamaah haji atau umrah selalu berusaha dalam berbicara dengan sejuk, benar, baik, santun, dan tidak gemar menyakitkan hati orang lain. Dengan perkataan yang seperti itu dapat memperbaiki amalan, menjadi cara penghapus dosa-dosa dan dapat memberi manfaat kepada orang lain atau sekitarnya

Semasa ibadah haji atau pun umrah di tanah suci, para jamaah telah dibimbing dengan ayat berikut ini:

Artinya: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS Al-Baqarah [2] : 197).

Pada ayat lain dikatakan yang artinya:
Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab [33] : 70-71).

Semoga seluruh para tamu Allah, baik yang melakukan ibadah haji maupun umrah, berjihad selama di tanah suci dan hingga sekembalinya, mendapatkan predikat Haji dan Umroh yang Mabrur eperti yang diharapkandan juga dapat dirasakan kemabrurannya oleh keluarga, saudara, kerabat, tetangga ataupun masyarakat lainnya juga perjuangan umat yang menantinya, setelah nanti kembali ke tanah air ini. Aamiin ya robbal ‘aalamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *